Tampilkan postingan dengan label Masalah Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masalah Agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

PAI Dipandang Sebelah Mata


Inilah realita perkembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) pada sekolah kita saat ini, yang jauh merosot dibandingkan dengan pendidikan di masa lalu

PENDIDIKANAgama Islam (PAI) di sekolah memiliki peranan yang sangat penting, karena di dalamnya terkandung beberapa norma/aturan, moral, akhlak, etika dan kesantunan yang harus dipatuhi oleh setiap aparat sekolah, dari kepala sekolah, guru, siswa sampai penjaga sekolah. PAI juga berperan dalam mempercepat proses pencapaian tujuan pendidikan nasional dan memberikan nilai pada mata pelajaran umum.

Mengingat pentingnya peranan PAI, maka mata pelajaran ini harus diupayakan dapat dilaksanakan dengan baik agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai. Itu sebabnya titik sentral dari sasaran pembelajaran PAI adalah meningkatkan sumberdaya manusia Indonesia yang bermoral. Membangun dan menyiapkan kader-kader atau para siswa menjadi manusia seutuhnya, yang pada giliran berikutnya bisa menyiapkan kader-kader lanjutan secara berkesinambungan.

Menilik Pendidikan Agama Islam sekarang berbeda dengan PAI di masa lalu. Poin-poin tujuan pendidikan nasional yang mesti dicapai adalah mengembangkan potensi peserta didik yang berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri.

Jika di masa lalu pembelajaran PAI di sekolah mampu mewujudkan tujuan nasional tesebut,  berbeda dengan PAI di masa sekarang. Keberhasilan PAI di masa lalu dapat dilihat dari perilaku yang muncul dari peserta didik seperti hormat dan santun terhadap guru, mampu menanamkan nilai-nilai akhlak dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga melahirkan generasi yang berkepribadian tangguh. Berbeda dengan siswa sekarang ini jauh dari kata santun, seperti melawan guru, susah diatur, tawuran, dan segala macam perilaku yang menyimpang lainnya. 

Saat ini  PAI di sekolah hanya menjadi tugas dan tanggungjawab mutlak Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) saja, sehingga wajar PAI saat ini sulit untuk mencapai tujuannya. Selain itu, diberlakukan UAN-UN menambah pergeseran PAI menjadi pelajaran yang dipandang sebelah mata. Bagaimana tidak,  pihak dinas, kepala sekolah, guru yang mata pelajaran di UAN-UN fokus mengejar target kelulusan sehingga otomatis pembentukan moral (akhlak) menjadi nomor dua.

Bahkan di beberapa sekolah, kepala sekolah memberikan reward berupa bonus kepada guru yang dapat mengiringi siswa mereka lulus dengan nilai yang baik. Hal ini menjadi pemisah antara pelajaran yang di UAN-UN dengan pelajaran yang tidak di UAN-UN termasuk salah satunya adalah pembelajaran PAI. Dampaknya kepada merosotnya kinerja mengajar guru mata pelajaran yang tidak di Ujian Nasionalkan sampai kepada menurunnya minat siswa untuk terus menggali ilmu pengetahuan.

Ironisnya lagi, ini berjalan bertahun-tahun lamanya, sehingga pola pendidikan kita saat ini hanya menciptakan generasi yang cerdas dalam segi kognitif, tanpa menyentuh unsur-unsur yang lain yang berhubungan dengan fitrah sebagai muslim. Wajar bila masih banyak sekolah-sekolah yang melahirkan lulusan yang baik kognitifnya, namun tidak berkualitas akhlaknya atau minim pengetahuan agamanya.

Jika kita kembali kepada teori, suatu yang akan dapat dihasilkan dengan baik jika prosesnya baik. Jika demikian, berarti dalam prosesnya Pendidikan Agama Islam tidak berjalan dengan semestinya sehingga melahirkan produk yang tidak berkualitas. Untuk itu semestinya pembelajaran PAI kembali diperjelas keberadaannya.

Beberapa cara dapat dilakukan seperti saat ini pemerintah pusat (Ditpais) merumuskan, menetapkan dan disebarluaskan untuk di laksanakan masalah kurikulum PAI pada sekolah. Mulai tahun ajaran 2008-2009 lalu, kurikulum yang dimaksud sudah mulai diujicobakan melalui Ujian Sekolah Berstandar Nasonal (USBN) dari tingkat SD. SMP, dan SMA/SMK pada sekolah-sekolah tertentu, kemudian tahun ajaran ini 2010-2011, sudah mulai diperluas pelaksanaannya termasuk sekolah-sekolah yang ada di negeri serumpun sebalai ini. Walau masih berstatus Ujian Sekolah, nampaknya kita semua sepakat bahwa hal ini sangat positif untuk terus dilaksanakan serta diperjuang_kan agar setara dengan pelajaran yang di UN-kan, serta paling tidak pembelajaran PAI tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran pelengkap.

Selain itu, yang tak kalah pentingnya agar sebuah pembelajaran memiliki nilai adalah pengintegrasiaan pelajaran PAI ke dalam pelajaran umum. Dalam hal ini harus ada kolaborasi yang baik antara guru PAI dengan guru umum, agar pelajaran atau materi yang disampaikan seimbang. Guru umumpun sebagai seorang muslim seharusnya memiliki pengetahuan yang baik tentang Islam dan Al-Quran, karena bila guru umum dapat menjelma menjadi guru Pendidikan Agama Islam, tentunya materi yang disampaikan akan selalu dapat dikaitkan dengan ajaran Islam, sehingga proses penanaman akhlak akan lebih mudah mengenai sasarannya.

Namun, kenyataan sekarang ini, pengintegrasian pelajaran PAI kedalam pelajaran umum tidak berlaku. Pelajaran umum hanya dipahami sebagai ilmu pengetahuan yang berseberangan dengan PAI, dan tidak dapat diintegrasikan. Siswapun hanya mengetahui pengetahuan umum tersebut sebagaimana yang termaktub di dalam buku pelajaran saja. Hal ini seakan-akan ada jurang pemisah antara pelajaran umum dengan pelajaran PAI. Mengapa terjadi demikian?

Contohnya saja, di dalam pelajaran umum siswa mempelajari bahwa hujan dapat terjadi jika terjadi kondensasi di awan. Lalu turunlah hujan. Namun pada pembelajaran PAI siswa mempelajari bahwa ada malaikat yang bertugas menurunkan hujan. Lantas mana kedua teori ini yang benar? Semestinya tidak lagi muncul hal demikian bila guru dapat mengintegrasikan kedua teori tersebut. Sehingga pengetahuan tersebut tidak terpisah-pisah dan menjadi bernilai.

Inilah realita perkembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) pada sekolah kita saat ini, yang jauh merosot dibandingkan dengan pendidikan di masa lalu. Sebagai muslim sejati tugas kita bersamalah untuk memajukan Pendidikan Agama Islam (PAI) di bumi serumpun sebalai ini sehingga mampu melahirkan anak-anak bangsa yang berakhlak dan berkualitas.***

Penulis: Kartika Sari, MPd I Guru PAI SMA Muhammadiyah Pangkalpinang
Sumber : bangkapos.com
 




Sabtu, 06 Oktober 2012

Jangan Abaikan Pendidikan Agama



Agama adalah pegangan hidup kita. Jangan heran jika kita hidup tanpa bimbingan ajaran agama, hidup kita terasa sempit dan gersang. Itu sebabnya, kita harus selalu mendahulukan pendidikan agama untuk anak-anak dan keluarga. Bahkan harus sejak dini diajarkan kepada mereka. Dengan menerapkan disiplin dan tanggung jawab semenjak anak kita masih kecil, dan apa yang bisa kita lakukan adalah berusaha memberi teladan yang baik dalam berperilaku di hadapan mereka. Untuk membina kepribadiannya
Pendidikan agama tidak cukup hanya diberikan di rumah. Untuk itu mencarikan sekolah yang bisa menempa anak dengan ajaran Islam yang bagus, haruslah dilakukan. Karena berusaha untuk mendorong anak bersosialisasi dengan teman mainnya, dalam suasana yang islami. Supaya Ia terbiasa toleran dengan temannya, empati, saling mencintai dan pandai menghargai, harus menjadi prioritas utama orang tua
Kalau kita lihat saat ini, banyak keluarga muslim yang sepertinya lebih mementingkan mutu sekolah dalam hal akademiknya saja, tapi miskin dalam nilai dan ajaran Islam. Sehingga, tak jarang yang memasukkan anak-anaknya ke sekolah non-Islam. Padahal itu sangat berbahaya bagi kehidupan anak-anak dan remaja yang sedang membentuk jati dirinya. Sebab, banyak fakta bahwa sekolah non-Islam seringkali mengharuskan seluruh siswanya mengikuti tatacara ibadah mereka. Bukankah ini akan merusak kehidupannya?
Tidak bisa dipungkiri bahwa remaja memang membutuhkan bekal pendidikan agama yang memadai. Inilah yang harus diperhatikan oleh para orangtua. Janganlah hanya karena ingin mendapatkan prestasi bagus dalam nilai-nilai akademiknya, lalu mengabaikan pendidikan agama yang sebenarnya lebih wajib. Maraknya tawuran, seks bebas, terlibat narkoba, lebih disebabkan mereka tidak mengenal agama sebagai pandangan hidup yang harus dipahami, ditaati dan diamalkan.
Saat ini pelajaran agama memang diberikan, tapi tidak membekas bagi kehidupan para siswa. Boleh jadi hal ini di sebabkan karena disampaikan dengan cara normatif belaka. Coba, jika pendidikan agama disampaikan dengan tekanan bahwa ini harus dipelajari, dipahami, dan diamalkan, insya Allah para siswa akan merasa bahwa agama bukan semata-mata tempat untuk mencari ketenangan batin belaka. Tapi akan dipahami sebagai pandangan hidup yang wajib diperjuangkan.
Namun, untuk mendapatkan hasil maksimal dalam membekali remaja dengan pendidikan agama, dibutuhkan peranan dari berbagai pihak terutama peranan dari negara yang harus lebih serius. Tanpa peran negara, upaya pendidikan agama dan juga pendidikan yang lain masih jauh panggang dari api jika harus mengukur keberhasilannya. Artinya, dibutuhkan peran yang besar dari negara, selain tentunya peran masyarakat dan keluarga tetap menjadi tumpuan. Jadi, jangan abaikan pendidikan agama!

Kamis, 29 Desember 2011

IMAN DAN TAQWA SEBAGAI KUNCI RIZKI

Pembaca yang berbahagia, kali ini kita berjumpa dalam rubrik tentang iman dan taqwa, dan pada kesempatan kali ini kita akan mengambil faidah dari tafsir surat At-Tholaq ayat 3-4, namun sebelum itu, alangkah baiknya kita mengetahui apa itu Iman dan apa itu taqwa.
Pembaca yang berbahagia, sering kali kita mendengar kata taqwa, bahkan kata taqwa tersebut sering dijadikan dasar atau pijakan untuk melakukan suatu perbuatan, Banyak orang yang mengatakan “Jadilah pribadi yang bertaqwa” atau dalam setiap khutbah jum’at para khatib sering mewasiatkan agar senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita,, Tapi tidak semua orang mengetahui makna yang sebenarnya dan apa yang akan diperoleh dari sebuah ketaqwaan yang tertanam dalam diri kita, sehingga tidak pernah mau berusaha untuk mencapai jalan yang bisa mendorong pada ketaqwaan tersebut.
Pada prinsipnya, iman adalah syarat sedangkan taqwa adalah tujuan. Kedudukan iman sebagai syarat menunjukkan bahwa kewajiban (contoh melaksanakan ibadah puasa hanya dapat disahuti melalui wadah keimanan ini). Mengingat bahwa nilai-nilai iman berfluktuasi maka sudah pasti nilai-nilai puasa juga demikian. Oleh karena itu, melalui wadah iman ini pulalah maka tujuan dari puasa yaitu menuju jenjang taqwa sangat mudah direalisasikan. Iman dan taqwa merupakan dua sisi mata uang yang sangat sulit untuk dipisahkan dan bahkan kedua-duanya saling membutuhkan. Dengan kata lain, jenjang taqwa tidak akan pernah terwujud bila tidak diawali dengan keimanan dan keimanan itu sendiri tidak akan memiliki nilai apa-apa bila tidak sampai ke derjat ketaqwaan.
Adapun Pembaca yang berbahagia, keutamaan taqwa sangatlah banyak, dan salah satu buah taqwa adalah termasuk penyebab turunnya rizki dari Alloh Tabaraka wa Ta’ala,, Inilah salah satu keutamaan yang tidak pernah disadari oleh setiap insan,,
Perpaduan antara iman dan taqwa ini adalah kemuliaan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an. Oleh karena itu, Al-Qur'an dengan tegas menyebutkan bahwa manusia yang paling mulia di sisi Alloh adalah orang-orang yang paling taqwa. Predikat kemuliaan ini sangat ditentukan oleh kualitas taqwa, semakin tinggi tingkat ketaqwaan seseorang maka semakin mulia pula kedudukannya pada pandangan Alloh. Perpaduan antara iman dan taqwa ini tidak akan terjadi secara otomatis karena iman memiliki persyaratan untuk menuju nilai kesempurnaannya. Persyaratan ini dapat dilihat melalui aturan-aturan yang diberlakukan kepada iman yaitu memadukan keyakinan dengan perbuatan. Tanpa melakukan perpaduan ini maka iman akan selalu bersifat statis karena berada pada tataran ikrar tidak pada tataran aplikasi. Oleh karena itu, maka kata 'iman' selalu digandeng dalam Al-Qur'an dengan amal shaleh (amanu wa 'amilu alshalihat) supaya keberadaan iman terkesan lebih energik.
Penggandengan kata 'iman' dengan perbuatan baik ini menunjukkan adanya upaya-upaya khusus yang harus dilakukan untuk menjaga keeksisan iman itu sendiri. Perlunya upaya khusus ini karena posisi manusia masih sangat labil jika masih berada pada level iman. Untuk menguatkan posisi ini maka orang-orang yang beriman diperintahkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik untuk menuju kestabilan. Adapun yang dimaksud dengan taqwa ialah kemampuan diri menjaga perpaduan ini secara kontiniu sesuai makna dasar dari kata taqwa itu sendiri yaitu 'menjaga'. Dengan demikian, maka sifat taqwa merupakan benteng untuk menjaga aturan-aturan Alloh supaya posisi iman tidak lagi berada dalam kelabilan. Kunci sukses yang ditawarkan Al-Qur'an untuk menghindari kelabilan ini ialah dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik.
Dalam Al-Qur'an dijumpai beberapa perintah kepada orang-orang yang beriman agar bertaqwa kepada Alloh sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah 278, Ali 'Imran 102, al-Maidah 35, al-Taubah 119, al-Ahzab 70, al-Hadid 28 dan al-Hasyr 18. Perintah-perintah ini mengindikasikan bahwa iman belum mencapai kesempurnaannya tanpa mendapatkan nilai taqwa. Berdasarkan hal ini maka orang-orang yang beriman harus cerdas mencari mediator yang cocok untuk dijadikan jembatan menuju taqwa. Al-Qur'an telah memberikan bimbingan kepada orang-orang Mukmin bahwa mediator yang paling efektif untuk memfasilitasi hubungan iman dengan taqwa adalah ibadah. Ayat-ayat yang berkaitan dengan ibadah ini menekankan agar kehadiran ibadah jangan dijadikan sebagai beban tapi harus dijadikan sebagai kebutuhan. Dengan kata lain, pelaksanaan ibadah adalah sebagai media untuk menggiring seorang mukmin menuju tingkat muttaqin.
Para ulama rahimahullah telah mejelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa,, Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Asfahani mendenifisikan sebagaimana yang terdapat dalam kitab (Al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an, hal,, 531): “Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan”
Sedangkan Pembaca yang berbahagia, dalam kitab (Tahriru AlFazhil Tanbih, hal,, 322),
Imam An-Nawawi mendenifisikan taqwa dengan “Menta’ati perintah dan larangan-Nya”,, Maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Alloh Subhanahu wa Ta’ala
Hal itu pun yang didefinisikan oleh Imam Al-Jurjani dalam (Kitabut Ta’rifat, halaman,, 68) bahwa “Taqwa yaitu menjaga diri dari siksa Alloh dengan menta’ati-Nya,, Yakni menjaga diri dari pekerjaan yang mengakibatkan siksa, baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya”
Karena itu siapa yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa, berarti dia bukanlah orang yang bertaqwa, Maka orang yang melihat dengan kedua matanya apa yang diharamkan Alloh, atau mendengarkan dengan kedua telinganya apa yang dimurkai Alloh, atau mengambil dengan kedua tangannya apa yang tidak diridhai Alloh, atau berjalan ke tempat yang dikutuk Alloh, berarti ia tidak menjaga dirinya dari dosa.
Jadi Pembaca yang berbahagia, orang yang membangkang perintah Alloh serta melakukan apa yang dilarang-Nya, dia bukan termasuk orang-orang yang bertaqwa,, Orang yang menceburkan diri ke dalam maksiat sehingga ia pantas mendapat murka dan siksa dari Alloh, maka ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.
Beberapa nash yang menunjukkan bahwa taqwa termasuk di antara sebab rizki,, mari kita perhatikan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam qur’an surat ath-tholaq ayat ke 2-3: 
...وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ
Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka,,” (At-Thalaq: 2-3)

Pembaca yang budiman, dalam ayat ini, Alloh menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Alloh dengan dua hal.:
Pertama, “Alloh akan mengadakan jalan keluar baginya” Artinya, Alloh akan menyelamatkannya sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas RadhiyAllohu ‘anhuma, dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat , Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata: “Dia memberi jalan keluar dari setiap apa yang menyesakkan manusia”
Kedua, “Alloh akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”,, Artinya, Alloh akan memberi rizki yang tak pernah ia harapkan dan angankan.
Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: ”Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Alloh dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Alloh akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya”,
demikianlah Pembaca yang budiman, beberapa penjelasan dari mufassir tentang ayat tersebut, dan tentunya kita harus meyakini kebenaran Janji Alloh Subhanahu Wata’ala tersebut, mudah-mudahan kita semua dapat menjadikan diri kita bertaqwa kepada Alloh Subhanahu wa’ala. Sampai di sini perjumpaan kita dalam rubrik tafsir ayat-ayat taqwa, sampai jumpa di lain kesempatan.


Wassalamu’alaikum

Selasa, 04 Oktober 2011

NASIHAT BUAT PARA REMAJA

Sebagian orang mengatakan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Inilah guyonan yang perlu dipertanyakan, bagaimana mungkin jika waktu muda dihabiskan untuk foya-foya tanpa amalan sholeh lalu mati bisa masuk surga? Bukankah itu suatu hal yang mustahil. Hidup di Dunia Hanya Sementara

Rasulullah SAW pernah menasehati Ibnu Umar tatkala berusia muda (sekitar 12 tahun). Beliau bersabda : “Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari)
Dalam hadist lainnya Rasulullah SAW bersabda : “Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tarmidzi)

Khalifah Ali bin Abi Tholib RA. juga memberi petuah kepada kita, “Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tersebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari untuk beramal dan bukan hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukan hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’alaq).


Manfaatkan Waktu Muda Sebelum Datang Waktu Tua

Lakukan lima hal sebelum datang lima hal. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda : ”Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara : [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim)

Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan setelah jatuh miskin. Dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit untuk beramal. Penyesalan tidak ada gunanya lagi jika seseorang hanya melewati msa mudanya tersebut dengan sia-sia. Seperti kata Al Munawi, “Lima hal ini (waktu muda, masa sehat, masa luang, masa kaya, dan waktu ketika hidup) barulah seseorang mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Tafsir Bi Syarh al jami’ Ash Shogir). Oleh karena itu mari kita manfaatkan lima perkara tersebut untuk hal kebaikan atau yang bermanfaat baik untuk diri kita maupun orang lain.
Beramal di Waktu Muda Akan Bermanfaat di Waktu Tua

Dalam surat At-Tin, Allah SWT telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi Ulul Azmi yaitu di Baitul Maqdis tempat diutusnya Nabi Isa AS, Bukit Sinai tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa AS, dan Negeri Mekkah tempat diutusnya Nabi Muhammad SAW. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :
 
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya” (QS. At-Tin : 4-6)

 An Nako’i mengatakan, “Jika seseorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda .“Subhanallah, inilah yang dimaksud dengan firman Allah dalam surat At-Tin diatas, “Bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”


Agar Waktu Muda Bermanfaat“Awali Setiap Amalan Dengan Ilmu”

Setelah kita mengetahui pentingnya beramal diwaktu muda, untuk mengawali amalan tersebut hendaklah setiap orang mengawalinya dengan ilmu. Mu’adz bin Jabal mengatakan, “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada dibelakang setelah adanya ilmu.”(Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar)
Al Bukhari berkata, “Al ‘Ilmu Qablal Qouli wal ‘Amali (Ilmu sebelum berkata dan berbuat).” Perkataan ini merupakan kesimpulan dari Firman Allah Ta’ala :

 "Maka ilmulah (ketahuilah), bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.(QS. Muhammad : 19)

“Keutamaan Ilmu Agama”


Pertama, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di dunia dan di akhirat.
Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :

"Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Mujadalah : 11)

Kedua, seseorang yang berilmu adalah cahaya yang banyak dimanfaatkan manusia untuk urusan agama dan dunia mereka.

Dalilnya, satu hadits yang sangat terkenal bagi kita, kisah seorang laki-laki dari Bani Israil yang membunuh 99 orang. Kemudian dia ingin bertaubat dan dia bertanya kepada seorang ahli ibadah. “Apakah ada pintu taubat untukku?”. Kemudian si ahli ibadah mengatakan tidak karena dia telah membunuh 99 orang. Maka dibunuhlah ahli ibadah tersebut sehingga genap 100 orang. Karena dia masih ingin bertaubat lagi maka dia bertanya pada ulama, “Apakah masih ada pintu taubat untukku?”. Maka ulama tersebut mengatakan bahwa masih ada pintu taubat untuknya dan tidak ada satupun yang menghalangi dirinya untuk bertaubat. Kemudian ulama tersebut menyuruhnya untuk berpindah ke sebuah negeri yang penduduknya merupakan orang shalih, karena kampung yang dia tinggali sekarang penuh dengan kerusakan. Oleh karena itu dia menuruti kata ulama tersebut, saat di tengah perjalanan dia sudah dijemput kematian.(HR. Bukhari dan Muslim). Begitulah perbedaan antara ahli ibadah dengan ahli ilmu.


Ketiga, ilmu bagaikan air yang menyuburkan tanah dan menumbuhkan tanaman.

 Rasulullah Saw bersabda : “Pemisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (air hujan)* yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banuyak. Diantaranya juga ada tanah yang ajadib**, maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah tanah qi’an***. Inilah pemisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari)


Keterangan : *(ghaits adalah hujan yang bermanfaat sehingga bisa menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Bukan merupakan hujan yang rintik-rintik maupun yang besar yang dapat menimbulkan banjir).**(ajadib adalah tanah yang bisa air tercurah kepadanya, namun air tidak bisa meresap kedalamnya. Tanah ini bisa menampung ghaits(hujan) dan menimbulkan genangan air diatasnya).***(qi’an seperti pasir, yaitu tanah yang air tercurah kepadanya, namun tidak dapat meresap masuk kedalamnya, tidak pula dapat menahan air agar berada diatasnya sehingga tidak dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan).

Ilmu Yang Wajib Dipelajari dalam Agama

Ilmu yang wajib dipelajari bagi manusia adalah ilmu yang menuntut untuk diamalkan saat itu, adapun ketika amalan tersebut belum tertuntut untuk diamalkan maka belum wajib untuk dipelajari. Jadi ilmu mengenai tauhid, mengenai dua kalimat syahadat, mengenai keimanan, adalah ilmu yang wajib dipelajari ketika seseorang menjadi muslim, karena ilmu ini adalah dasar yang harus diketahui. Kemudian ilmu mengenai shalat, hal-hal yang berkaitan dengan shalat seperti bersuci dan lainnya merupakan ilmu berikutnya yang harus dipelajari. Kemudian ilmu tentang hal-hal yang halal dan haram, ilmu tentang muamalah dan seterusnya.

Sumber: http://kmmtp.lifeme.net/